PENGARUH BULLYING TERHADAP KETERKAITAN FUNGSI KELUARGA DAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DI JAKARTA
MAKALAH
PENGARUH
BULLYING TERHADAP KETERKAITAN FUNGSI
KELUARGA DAN PERILAKU BULLYING PADA
REMAJA DI JAKARTA
Makalah
ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas akhir
Mata
Kuliah : Bimbingan Menulis
Program
Sarjana Universitas Esa Unggul
Dosen
Pembimbing :
Novendawati
Wahyu Sitasari, S.Psi, M.Psi
Disusun
oleh :
Lilis
Febriani
20220701140
Fakultas
Psikologi
Universitas
Esa Unggul
Jakarta
2023
PENGARUH BULLYING
TERHADAP KETERKAITAN
FUNGSI KELUARGA DAN PERILAKU BULLYING
PADA REMAJA DI JAKARTA
Novendawati
Wahyu Sitasari, Yuli Asmi Rozali
Fakultas Psikologi, Universitas Esa
Unggul
Jl.
Arjuna Utara no.9 Kebon Jeruk Jakarta Barat
Pendahuluan
Indonesia adalah salah
satu negara yang diduga masih mengalami angka kejadian bullying cukup tinggi, seperti salah satunya perilaku intimidasi di
kalangan remaja. Sebanyak 40% remaja telah diintimidasi di sekolah dan 32%
melaporkan bahwa mereka telah menjadi korban kekerasan fisik. Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di sektor pendidikan. Dari 2011 sampai
Agustus 2014, KPAI mencatat 369 pengaduan terkait masalah tersebut. Jumlah
tersebut sekitar 25% dari total pengaduan di bidang pendidikan sebanyak 1.480
kasus. Bullying yang disebut KPAI
sebagai bentuk kekerasan di sekolah mengalahkan tawuran pelajar, diskriminasi
pendidikan, ataupun aduan pungutan liar. Pada tahun 2019 sebanyak 153 kasus
yang terdiri dari korban kekerasan fisik dan
bullying.
Untuk bullying khususnya remaja SMP
dan SMA di Jakarta, angkanya mencapai 2.473 laporan. Dari data tersebut dapat
dilihat bahwa salah satu permasalahan di lingkungan sekolah khususnya pada usia
remaja di Jakarta sampai saat ini masih belum terselesaikan, yaitu bullying.
Bullying
menurut Olweus (dalam Wiyani, Sitasari 2022) adalah perilaku agresif atau
manipulasi yang dapat berupa kekerasan fisik (misal: menampar, memukul,
menganiaya, menciderai), verbal (misal: mengejek, mengolok-olok, memaki) atau
psikologis (misal: memalak, mengancam, mengintimidasi, mengucilkan) yang dilakukan
dengan sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa kuat atau
berkuasa dengan tujuan menyakiti atau merugikan seseorang atau sekelompok orang
yang merasa tidak berdaya. Agresi tidak selalu bersifat fisik, ada kalanya
remaja yang agresif menggunakan kata-kata untuk memanipulasi seseorang atau
menyakiti hati seseorang. Sedangkan bullying
adalah subkategori dari agresi, yang mana melibatkan perilaku agresif berulang
dan ditandai dengan tidak bisa membela diri sendiri. Remaja yang tidak melakukan
perilaku bullying, remaja tersebut
akan berhubungan baik dengan lingkungan sekitarnya, terbuka dan percaya bahwa
setiap masalah yang dihadapi akan dapat diatasi oleh orangtua dan juga guru,
sedangkan ketika remaja melakukan perilaku bullying
remaja tersebut sulit untuk diberikan arahan, orang tua cenderung acuh dengan
masalah yang dihadapi oleh remaja tersebut. Bullying
juga dapat dikatakan apabila seseorang dengan sengaja melukai, melecehkan, atau
mengintimidasi orang lain (Donnellan, dalam Sitasari 2022).Bullying melibatkan 3 karakter yaitu pelaku yang melakukan bullying, seorang atau sekelompok orang
yang melihat perilaku bullying namun tidak melakukan tindak bullying, dan pihak yang tertindas atau
korban (Coloroso, dalam Sitasari 2022). Bullying
terjadi tidak hanya dengan adanya pelaku, namun bullying juga menimbulkan korban. Bullying menimbulkan perasaan tertekan karena pelaku menguasai
korban. Bagi korban, kondisi tersebut menyebabkan kesakitan fisik, dan
psikologis, kepercayaan diri yang rendah, tarauma, tidak mampu menyerang balik,
merasa sendiri, serba salah, dan takut sekolah, serta korban merasa tidak ada
yang menolong. Akhirnya korban mengasingkan diri dari sekolah, menderita
ketakutan sosial, bahkan cendrung ingin bunuh diri (Astuti, dalam sitasari 2022).
Menurut Fielder (dalam
Nwokolo & Efobi, Sitasari 2022), perilaku yang tidak diinginkan seperti bullying merupakan hasil dari dinamika
interaksi yang terjadi di dalam keluarga. Hal ini terjadi karena menurut teori
sistem keluarga tingkah laku setiap anggota keluarga dipengaruhi oleh interaksi
dengan anggota keluarga lainnya (DeGonova, dalam Sitasari 2022). Munculnya
perilaku bullying diduga bersumber
dari kurang efektifnya fungsi keluarga. Interaksi dalam keluarga sangat
berkaitan dengan fungsi keluarga pada remaja, karena pengaruh yang diberikan
keluarga bersifat berkelanjutan dari anak lahir sampai remaja (Rigby, dalam
Sitasari 2022). Menurut Yusuf (dalam Siswati, Sitasari 2022)keluarga yang dapat
menjalankan fungsinya merupakan keluarga yang efektif atau dapat disebut dengan
keberfungsian keluarga.
Pembahasan
Apabila
keluarga tidak berfungsi secara efektif maka remaja melakukan perilaku bullying, sebaliknya apabila keluarga
berfungsi secara efektif maka remaja tidak melakukan perilaku bullying. Dapat dilihat bahwa remaja
yang memiliki keluarga berfungsi secara efektif maka remaja mampu mengelola
emosinya dikarenakan adanya ikatan antara remaja dengan keluarga, saling
terjalin komunikasi antar dua arah, keluarga memberikan solusi saat remaja
memiliki masalah serta menjadi pendengar yang baik. Sehingga dalam pertemanan
remaja mampu berteman dengan siapa saja, tidak melakukan perilaku bullying, serta berhubungan baik dengan
lingkungan sekitar.
Hal
tersebut sesuai yang diungkapkan Gunarsa (2004) yaitu perilaku bullying dipengaruhi oleh beberapa
faktor di antaranya fungsi keluarga. Kemudian hal tersebut diperkuat oleh
(Hurlock, dalam Sitasari 2022) pandangan remaja mengenai diri mereka sendiri
merupakan cerminan langsung dari perilaku yang dinilai atas cara mereka
diperlakukan oleh anggota-anggota keluarga. Berbeda dengan remaja yang memiliki
keluarga tidak berfungsi secara efektif remaja cenderung tidak peduli satu sama
lain, kurangnya keterbukaan mengenai perasaan, kurangnya kemampuan untuk memecahkan
masalah dan membuat keputusan, pembagian peran anggota keluarga dirasakan
kurang adil. Komunikasi yang tidak efektif tersebut akan menimbulkan berbagai
masalah dengan anggota keluarganya, antara lain dapat menimbulkan perasaan
tidak percaya antar anggota keluarga, terjadinya kesalahpahaman yang dapat
menimbulkan konflik hingga melakukan tindakan yang merugikan bagi orang lain.
Sehingga remaja melampiaskan emosi yang terjadi di dalam dirinya kepada
temannya seperti memukul, menendang, berbicara kasar dan lainnya. Remaja yang
menilai keluarganya berfungsi tidak efektif diduga karena ketika remaja korban bullying memiliki permasalahan, keluarga
tidak memiliki saran alternatif untuk memecahkan suatu masalah walaupun remaja
korban bullying sudah menceritakan
permasalahan yang dihadapi.
Ketika
remaja korban bullying, mencoba
menceritakan permasalahannya tidak adanya timbal balik komunikasi keluarga
kurang terjalin dengan intens. Peran, pembagian tugas yang tidak jelas keluarga
tidak menyediakan lingkungan rumah yang kondusif, tidak memberikan arahan
mengenai aktivitas sehari-hari, membuat remaja tidak mampu mengembangkan
emosinya dengan baik. Remaja korban bullying
dengan keluarga tidak efektif akan merasa ditolak oleh keluarga juga lingkungan
karena remaja merasa tidak didengarkan oleh keluarga tidak adanya kehangatan
membuat remaja memilih untuk memendam permasalahannya sendiri. Remaja korban bullying pada situasi ini akan merasa
kebingungan, sendirian dan mencari perlindungan. Artinya remaja korban bullying yang menilai keluarganya tidak
berfungsi efektif akan sulit menyelesaikan masalah diduga karena korban bullying menilai keluarganya tidak mampu
memahami emosi yang dikeluhkan, tidak tegas dalam memberikan arahan, keluarga
tidak mendengarkan dan memberikan solusi, tidak merasakan adanya kedekatan
dengan anggota keluarga serta kurangnya kompromi membuat subjek tidak pernah
menceritakan permasalahannya kepada siapapun.
Dampak
yang dirasakan oleh remaja korban bullying
dengan keluarga yang berfungsi tidak efektif ketika menghadapi permasalahan
remaja cenderung menjadi anak yang pendiam, menarik diri, tidak mau terbuka
dengan keluarga, merasa tidak terlindungi, kebingungan,dan merasakan ketidak
nyamanan. Dampak lain yang
dirasakan remaja korban bullying akan
merasa bahagia, dapat mengontrol rasa marah, dapat berkomunikasi dengan baik
dan peduli dengan anggota keluarganya. Sedangkan keberfungsian keluarga yang
tidak efektif tidak memiliki keterlibatan dalam kegiatan anggota keluarga,
tidak dapat bekerjasama untuk memecahkan masalah, dan tidak dapat mengendalikan
perilaku anggotanya. Dampak yang dirasakan remaja korban bullying dengan keluarga tidak efektif akan merasa tidak bahagia,
tidak mampu mengontrol emosinya, tidak memiliki komunikasi yang baik dan tidak
peduli dengan anggota keluarganya. Novrian (2017) menyatakan bahwa hubungan
keluarga yang buruk sangat berbahaya untuk setiap usia terlebih selama masa
remaja yang sangat tidak percaya diri dan bergantung pada keluarga untuk
memberikan rasa aman. Yang terpenting adalah mereka memerlukan bimbingan dan
bantuan dalam tugas perkembangan masa remaja. Jika hubungan antara keluarga
dengan anggota keluarga ditandai dengan pertentangan, perasaan tidak aman
berlangsung lama dan remaja kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan pola
perilaku yang tenang dan lebih matang. Remaja yang hubungan keluarganya kurang
baik dapat mengembangkan hubungan yang buruk juga dengan orang-orang
dilingkungan sekitar, karena tanpa disadari remaja kehilangan momen yang
menyenangkan dalam kehidupan keluarga. Dampak yang dirasakan remaja yang
menjadi korban bullying dengan
keberfungsian keluarga yang tidak efektif, biasanya anak tidak mau terbuka
dengan keluarga, merasa bahwa respon yang diberikan oleh keluarga tidak sesuai
dengan apa yang dibutuhkan, penyelesaian masalah pada remaja korban bullying juga tidak ada sehingga membuat
remaja korban bullying kebingungan,
komunikasi antar keluarga dengan remaja korban bullying tidak jelas, keluarga tidak memiliki keterlibatan secara
empati antar keluarga, dengan adanya keberfungsian keluarga yang tidak efektif
membuat remaja korban bullying merasakan
ketidaknyamanan, merasa tidak terlindungi, tidak ada teman untuk berkomunikasi,
tidak dapat mengekspresikan emosinya, merasa tidak terlibat di dalam keluarga
sehingga ketika remaja menjadi korban bullying
ia tidak dapat menyelesaikan permasalahannya.Remaja korban bullying yang cenderung pendiam, menarik
diri juga tidak mau berterus terang dapat diduga karena sebagian besar remaja
korban bullying tidak mau terbuka
dengan keluarga, kurangnya komunikasi yang terjalin dengan anggota keluarga,
peran dan pembagian tugas tidak jelas serta remaja merasa tidak diterima oleh
lingkungan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Juliyanti dan Siswati (2015) yang berjudul hubungan antara keberfungsian
keluarga dengan pengungkapan diri remaja terhadap orangtua pada siswa SMA
Krista Mitra Semarang yang menunjukan hasil adanya hubungan positif antara
keberfungsian keluarga yang artinya semakin tinggi keberfungsian keluarga akan
diikuti pula dengan pengungkapan diri remaja terhadap orang tua yang semakin
tinggi.
Sebaliknya, semakin
rendah keberfungsian keluarga maka semakin rendah pengungkapan diri remaja
terhadap orang tua. Remaja korban bullying
yang menilai keluarga berfungsi efektif cenderung tumbuh menjadi pribadi yang
percaya diri dan mampu menyelesaikan permasalahan, karena remaja korban bullying merasa didengarkan oleh
keluarga. Remaja korban bullying
menerima kasih sayang dengan cukup, mau terbuka dan menceritakan
permasalahannya kepada keluarga, keluarga menampilkan emosi yang sesuai dengan
yang dibutuhkan oleh korban, korban bullying
diajarkan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan dengan baik tanpa membalas
perilaku yang sama, komunikasi dan pertukaran informasi yang dilakukan antara
keluarga dengan korban sering dilakukan, sehingga korban berani menghadapi dan
menyelesaikan permasalahannya korban berani bertindak karena merasa dilindungi
dan didengarkan oleh keluarga.
Hasil penelitian Arens dan Hasselhorn (2014) yang juga meninjau konsep diri berdasarkan usia dan tingkat pendidikan, di mana tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara konsep diri pada responden dengan usia yang lebih tua dan pendidikan lebih tinggi dengan responden yang lebih muda dan pendidikan lebih rendah. Arens dan Hasselhorn (2014) menjelaskan bahwa terdapat faktor yang mengiringi perkembangan individu dari satu fase menuju fase yang lebih dewasa atau pendidikan yang lebih tinggi, yaitu perubahan-perubahan seperti kelabilan emosi, sensitivitas perasaan yang tinggi, diiringi perubahan fisik dan pengaruh perubahan pandangan lingkungan social. Menurut Fitts (1971) pembentukan konsep diri dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dimensi internal dan eksternal. Pengaruh variabel konsep diri dapat berasal dari dalam diri (internal) seperti tipe kepribadian, harga diri, penerimaan diri, identitas diri, dapat juga berasal dari luar diri (eksternal) seperti konformitas dan penyesuaian sosial.Remaja korban bullying dengan konsep diri positif dapat berbagi pengalaman dan dorongan, serta masukan kepada remaja korban bullying yang lain untuk tetap berjuang, bersemangat, berpikiran positif, dan saling mendukung satu sama lain.
Daftar
Pustaka
Sitasari, N, W. (2022). Keterkaitan
Keberfungsian Keluarga Dan Perilaku Bullying Pada Remaja Di Jakarta. Jurnal Pendidikan. 3(1). Hal 1-6
Sitasari, N, W. (2022). Gambaran
Keberfungsian Keluarga Korban Bullying Di Jakarta. Jurnal Pendidikan. 2(3). Hal 5-6
Rozali, Y, A. (2020). Pengaruh Dukungan
Sosial Terhadap Konsep Diri Pada Remaja
Korban Bullying. Jurnal Pendidikan.
1(1). Hal 6-7
Komentar
Posting Komentar